BeritaInternasionalNasionalOlahraga

Tim Thomas Indonesia Membawa Misi Mengulangi Kenangan Manis di Denmark

39
×

Tim Thomas Indonesia Membawa Misi Mengulangi Kenangan Manis di Denmark

Sebarkan artikel ini
Tim Thomas Indonesia di Denmark 2026, (foto : PBSI/Inilah)

JAKARTA, LIVENEWS.CO.ID — Dengan 14 gelar Piala Thomas, Timnas Indonesia tetap menjadi tim tersukses dalam sejarah kejuaraan beregu paling bergengsi tersebut.

Status itu secara otomatis menempatkan Indonesia sebagai kandidat juara di setiap edisi. Namun, realitas dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa tradisi tidak selalu berjalan seiring dengan hasil.

Dua edisi terakhir menjadi contoh paling konkret. Indonesia mampu menembus final, tetapi gagal menuntaskannya dengan gelar.

Pada 2022 di Bangkok, Indonesia harus mengakui keunggulan India dengan skor 0-3. Hasil ini juga sekaligus menandai lahirnya kekuatan baru, karena India untuk kali pertama menjadi juara di ajang beregu paling bergengsi di dunia.

Dua tahun berselang di Chengdu, China kembali menunjukkan konsistensinya dengan mengalahkan Indonesia 3-1 di final.

Gelar terakhir Indonesia justru datang di Aarhus, Denmark, pada edisi 2020. Kini, ketika turnamen kembali digelar di negara yang sama, muncul pertanyaan yang lebih dalam dari sekadar peluang. Apakah Indonesia siap secara tim, bukan hanya secara individu?

Bedah Kekuatan

Di atas kertas, komposisi skuad Indonesia tetap kompetitif. Jonatan Christie dan Anthony Sinisuka Ginting menjadi jangkar di sektor tunggal putra. Keduanya memiliki pengalaman dan kualitas untuk menghadapi tekanan di level tertinggi.

Namun, dalam format beregu, kekuatan tidak berhenti pada partai pertama atau kedua. Ketika pertandingan berjalan hingga partai keempat atau kelima, peran pemain pelapis menjadi krusial.

Di titik inilah Indonesia beberapa kali kehilangan kendali, Bukan karena kekurangan kualitas, tetapi karena distribusi kekuatan yang belum benar-benar merata. Hal ini juga menjadi ujian bagi pemain muda seperti Alwi Farhan dan M. Zaki Ubaidillah.

Di sektor ganda, Indonesia mengandalkan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri sebagai tumpuan. Kehadiran pasangan non-pelatnas Sabar Karyaman Gutama/Moh. Reza Pahlevi Isfahani menambah opsi, sementara duet muda Raymond Indra/Nikolaus Joaquin mulai diproyeksikan sebagai kekuatan baru. Namun, konsistensi masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terjawab.

Di Grup D, Indonesia tergabung bersama Prancis, Thailand, dan Aljazair.

Prancis menjadi salah satu tim yang patut diperhitungkan setelah tampil sebagai juara Eropa 2026. Trio tunggal Christo Popov, Toma Junior Popov, dan Alex Lanier memberikan kedalaman yang jarang dimiliki tim Eropa sebelumnya, sementara sektor ganda diperkuat kombinasi Popov dan Thom Gicquel.

Thailand juga menghadirkan ancaman dengan karakter berbeda. Kunlavut Vitidsarn menjadi tulang punggung dengan permainan yang solid dan konsisten, didukung Panitchaphon Teeraratsakul yang mulai stabil di level atas, serta pengalaman Dechapol Puavaranukroh di sektor ganda.

Dalam konteks ini, fase grup memang memberi ruang bagi Indonesia untuk mengamankan langkah ke babak berikutnya. Namun, pengalaman menunjukkan bahwa fase gugur adalah titik krusial yang sering kali menjadi batas.

Di babak inilah Indonesia akan kembali berhadapan dengan tim-tim yang tidak hanya kuat secara individu, tetapi juga solid sebagai unit.

China, Jepang, Korea Selatan, hingga Denmark sebagai tuan rumah memiliki keunggulan dalam hal kedalaman skuad dan stabilitas permainan. (INILAH)

Baca Juga  Hantam Mobil Hingga Tewaskan 4 Orang, KAI Ingatkan Larangan Beraktivitas di Jalur Rel
error: Content is protected !!